Di sisi lain, upaya Donald Trump untuk mengajak negara-negara sekutu mengirimkan armada militer guna mengawal kapal tanker di kawasan tersebut tidak mendapatkan respons positif. Sejumlah negara memilih untuk tidak terlibat langsung, mempertimbangkan risiko eskalasi konflik yang lebih luas. Penolakan ini bahkan menuai kritik dari Trump yang menilai sekutu-sekutu tersebut kurang menunjukkan dukungan setelah selama ini menerima bantuan strategis dari AS.

Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, mengingatkan bahwa situasi di lapangan masih sangat rapuh. Ia menilai bahwa satu insiden kecil saja, seperti serangan rudal oleh milisi atau pemasangan ranjau di jalur pelayaran, dapat memicu lonjakan risiko yang jauh lebih besar. Menurutnya, pasar saat ini masih berada dalam kondisi waspada tinggi terhadap segala kemungkinan yang dapat mengganggu distribusi energi.

Di tengah situasi ini, dinamika geopolitik juga memunculkan negosiasi baru. Iran dilaporkan meminta India untuk membebaskan tiga kapal tanker yang sebelumnya disita pada Februari lalu. Permintaan ini disebut sebagai bagian dari upaya diplomatik untuk menjamin keamanan jalur pelayaran, khususnya bagi kapal-kapal India yang hendak keluar dari kawasan Teluk Persia melalui Selat Hormuz.

Dampak nyata dari penutupan jalur ini mulai dirasakan oleh produsen minyak utama. Sumber industri menyebutkan bahwa Uni Emirat Arab, sebagai salah satu produsen terbesar ketiga dalam OPEC, terpaksa mengurangi produksi secara drastis. Bahkan disebutkan bahwa output minyaknya turun hingga lebih dari setengah kapasitas normal. Kondisi ini semakin memperketat pasokan global yang sudah berada dalam tekanan.