Menurutnya, langkah tersebut mencerminkan kekhawatiran global terhadap stabilitas dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia. Ketergantungan Amerika Serikat pada pembiayaan utang dari luar negeri dinilai semakin berisiko, terutama ketika kepercayaan terhadap dolar mulai goyah.

Schiff menilai, sistem keuangan global perlahan bergerak menuju tatanan baru yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada dolar AS.

Sejumlah data ekonomi terbaru turut memperkuat pandangan Schiff. Indeks Dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia, dilaporkan turun ke level terendah dalam empat tahun terakhir.

Pada saat yang sama, pembelian emas oleh bank sentral global menunjukkan lonjakan signifikan. Sejak 2022, pembelian emas oleh bank sentral dunia dilaporkan melampaui 1.000 ton per tahun, lebih dari dua kali lipat dibandingkan rata-rata pembelian pada periode sebelumnya.

Lonjakan tersebut kerap diinterpretasikan sebagai upaya diversifikasi cadangan devisa sekaligus perlindungan terhadap ketidakpastian ekonomi global dan inflasi jangka panjang.

Meski demikian, peringatan Schiff tidak sepenuhnya disepakati oleh semua pihak. Carrie Sheffield, analis kebijakan senior dari Independent Women’s Forum, menilai sebagian komentar yang menyebut kehancuran dolar cenderung terlalu ekstrem dan tidak selalu sejalan dengan data ekonomi terkini.

Sheffield merujuk pada data Biro Statistik Tenaga Kerja AS yang menunjukkan inflasi relatif lebih terkendali pada periode pemerintahan Presiden Donald Trump dibandingkan masa pemerintahan Presiden Joe Biden.

“Pada masa jabatan kedua Presiden Trump, inflasi rata-rata tercatat 2,7 persen, dibandingkan sekitar 5 persen pada era pemerintahan Biden,” ujar Sheffield.