Ia juga menyoroti kinerja produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat pada 2025 yang dinilai masih solid, serta daya beli masyarakat yang relatif stabil.
Dalam diskusi yang sama, pembawa acara Liz Claman menyebut sejumlah indikator ekonomi menunjukkan performa yang cukup kuat, termasuk pendapatan rumah tangga yang stabil dan peningkatan produktivitas.
Menanggapi pandangan tersebut, Schiff menilai indikator ekonomi resmi tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil. Menurutnya, sejumlah data masih terdistorsi oleh inflasi dan berpotensi mengalami revisi di kemudian hari.
“Angka-angka ini tidak menggambarkan realitas yang sebenarnya. Inflasi telah menggerus daya beli, dan dampaknya belum sepenuhnya terlihat,” kata Schiff.
Ia menambahkan bahwa inflasi ke depan berpotensi jauh lebih merusak dibandingkan periode sebelumnya.
“Inflasi akan jauh lebih merusak dalam beberapa tahun ke depan. Itulah pesan yang disampaikan oleh emas dan perak. Ini adalah peringatan,” ujarnya.
Schiff juga kembali mengkritik struktur ekonomi Amerika Serikat yang dinilainya terlalu bergantung pada konsumsi, utang, dan status dolar sebagai mata uang cadangan global.
“Kita bergantung pada dunia untuk barang-barang yang tidak kita produksi dan dana yang tidak kita tabung,” katanya.
Ia menilai dunia mulai menarik dukungan terhadap sistem tersebut, seiring meningkatnya upaya dedolarisasi oleh sejumlah negara.
“Dunia mulai menarik dukungan itu. Dolar akan runtuh dan digantikan oleh emas,” tegas Schiff.
Menurutnya, krisis mendatang akan berbeda dari krisis-krisis sebelumnya karena dampaknya justru akan lebih berat dirasakan oleh Amerika Serikat dibandingkan negara lain.
“Ini adalah krisis keuangan Amerika. Dunia justru akan diuntungkan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan