Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh pejabat tinggi Iran. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat. Ia menyebut pernyataan tersebut sebagai informasi yang tidak benar dan diduga bertujuan memengaruhi pasar global, khususnya sektor minyak dan keuangan.

Ghalibaf juga menegaskan bahwa Iran tetap berada dalam posisi tegas menghadapi tekanan eksternal. Ia menyatakan bahwa masyarakat Iran menginginkan respons yang kuat terhadap setiap bentuk agresi, dan seluruh pejabat negara berada dalam satu garis komando untuk mempertahankan kepentingan nasional.

Situasi ini menunjukkan bahwa ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat masih berada pada fase yang sangat dinamis dan berpotensi berkembang lebih jauh. Di satu sisi, terdapat sinyal diplomasi yang mencoba meredakan konflik, namun di sisi lain, langkah-langkah militer justru terus diperkuat oleh kedua belah pihak.

Pengamat hubungan internasional menilai bahwa kondisi ini mencerminkan strategi “tekanan maksimum” yang masih digunakan oleh kedua negara, baik melalui jalur militer maupun politik. Ketidakpastian yang terus berlangsung juga meningkatkan kekhawatiran akan potensi konflik terbuka yang dapat berdampak luas, tidak hanya bagi kawasan Timur Tengah tetapi juga bagi stabilitas global secara keseluruhan.

Dengan meningkatnya aktivitas militer dan retorika keras dari kedua pihak, dunia internasional kini menaruh perhatian besar terhadap perkembangan situasi ini. Banyak pihak berharap agar jalur diplomasi tetap menjadi pilihan utama guna menghindari eskalasi konflik yang lebih besar di masa mendatang.