Jakarta, ERANASIONAL.COM – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pemerintahnya akan terus melakukan operasi militer terhadap Hamas dan Hizbullah tanpa bergantung pada persetujuan pihak luar. Ia menyatakan Israel akan mengambil langkah apa pun yang dianggap perlu demi menjaga keamanan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu pada pembukaan rapat kabinet, di tengah meningkatnya ketegangan regional dalam sepekan terakhir.
Israel diketahui kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah titik di Lebanon, yang menurut militer negara itu merupakan fasilitas militer milik Hizbullah.
Sementara itu, di Jalur Gaza, otoritas pertahanan sipil melaporkan sedikitnya 21 warga tewas dan puluhan lainnya mengalami luka akibat serangan udara yang terjadi pada Sabtu, 22 November 2025.
Situasi ini kembali memicu saling tuding antara Hamas dan Israel terkait pelanggaran terhadap gencatan senjata yang telah diberlakukan sejak 10 Oktober.
“Kami terus menindak kelompok teroris di berbagai front,” ujar Netanyahu.
Ia mengonfirmasi bahwa Angkatan Pertahanan Israel (IDF) telah melakukan serangan terhadap Hizbullah pada akhir pekan, dan memastikan operasi semacam itu akan dilanjutkan untuk mencegah kelompok tersebut memulihkan kemampuan serangannya.
Netanyahu juga menuduh Hamas melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan mencoba menembus garis pembatas beberapa hari lalu. Menurutnya, upaya tersebut berhasil digagalkan oleh pasukan Israel dan dibalas dengan operasi yang menargetkan anggota Hamas yang dianggap bertanggung jawab.
Dalam kesempatan yang sama, Netanyahu menolak anggapan bahwa Israel membutuhkan restu pihak lain sebelum mengambil tindakan militer. “Kami bertindak secara independen. Keamanan Israel merupakan tanggung jawab kami sendiri,” tegasnya.
Militer Israel bersama badan keamanan Shin Bet turut mengumumkan keberhasilan operasi yang diklaim telah menewaskan Alaa Haddadeh, sosok yang disebut bertugas menyalurkan persenjataan dari markas Hamas ke komandan-komandan lapangan.
Ketegangan juga meningkat di Lebanon setelah Israel melancarkan serangan di wilayah Beirut yang, menurut klaimnya, menewaskan Haitham Ali Tabatabai, pejabat tinggi Hizbullah yang menjabat sebagai kepala staf kelompok tersebut.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut setidaknya lima orang tewas dan 28 lainnya luka-luka akibat serangan tersebut, yang terjadi hanya beberapa hari sebelum Netanyahu kembali mengumumkan niat Israel menindak tegas Hamas dan Hizbullah.

Tinggalkan Balasan