Aksi unjuk rasa pro-pemerintah ini berlangsung bersamaan dengan upaya otoritas Iran untuk menampilkan kesan bahwa situasi dalam negeri telah kembali stabil. Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran mengklaim di hadapan para diplomat asing bahwa kondisi keamanan nasional telah “sepenuhnya terkendali”.
Namun, klaim tersebut berbanding terbalik dengan laporan dari lapangan. Sejumlah video dan kesaksian yang beredar di media sosial menunjukkan bahwa aksi protes anti-pemerintah masih terus berlangsung, meskipun sebagian besar dilakukan pada malam hari untuk menghindari aparat keamanan.
Pemadaman dan pembatasan akses internet yang diberlakukan pemerintah semakin menyulitkan verifikasi independen mengenai skala dan intensitas demonstrasi yang sebenarnya.
Lembaga pemantau HAM Iran Human Rights, yang berbasis di Norwegia, melaporkan bahwa sedikitnya 648 orang tewas dalam gelombang protes terbaru ini. Korban tewas termasuk sembilan anak-anak, sementara ribuan lainnya dilaporkan mengalami luka-luka akibat bentrokan dengan aparat keamanan.
LSM tersebut memperingatkan bahwa angka korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar, mengingat ketatnya pembatasan informasi dan tekanan terhadap jurnalis serta aktivis di dalam negeri.
Gelombang protes ini dipicu oleh kombinasi faktor ekonomi, politik, dan sosial, termasuk inflasi tinggi, pengangguran, serta ketidakpuasan terhadap pemerintahan ulama yang telah berkuasa lebih dari empat dekade.

Tinggalkan Balasan