KBRI Phnom Penh memperkirakan arus WNI yang meminta bantuan akan terus berlanjut dalam beberapa waktu ke depan, seiring dengan masih berlangsungnya operasi penertiban dan proses identifikasi korban di berbagai lokasi.

Fenomena penipuan online di Kamboja tidak bisa dilepaskan dari praktik perdagangan manusia lintas negara. Laporan Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2023 menyebutkan bahwa ratusan hingga ribuan orang telah dipaksa bekerja dalam operasi kejahatan siber di negara-negara seperti Kamboja, Myanmar, dan Laos.

Para korban umumnya direkrut melalui tawaran pekerjaan bergaji tinggi, kemudian dipaksa bekerja menjalankan penipuan daring setelah tiba di lokasi. Mereka kerap mengalami intimidasi, kekerasan, penyekapan, hingga penyiksaan jika tidak memenuhi target.

Arab News menjelaskan bahwa warga asing yang menjadi korban perdagangan manusia tersebut dipekerjakan untuk menjalankan berbagai modus penipuan, mulai dari penipuan asmara (romance scam) hingga penipuan investasi mata uang kripto.

“Mereka direkrut untuk menipu orang asing secara daring agar mentransfer sejumlah besar uang,” tulis media itu.

Modus penipuan asmara biasanya menyasar korban dengan pendekatan emosional melalui media sosial atau aplikasi kencan, sementara penipuan kripto memanfaatkan minimnya pemahaman korban terhadap investasi digital.

Kasus ini kembali menempatkan Asia Tenggara dalam sorotan global sebagai salah satu pusat utama industri penipuan online internasional. Kawasan ini dinilai memiliki kombinasi faktor yang mendukung berkembangnya kejahatan tersebut, mulai dari lemahnya pengawasan, kawasan perbatasan yang longgar, hingga keterlibatan jaringan kejahatan terorganisasi lintas negara.