Ia menambahkan bahwa meski jumlah korban berbeda-beda menurut berbagai sumber, situasi di lapangan tetap memprihatinkan. “Bahkan tanpa angka yang pasti, jelas bahwa kondisi di lapangan sangat mengerikan terkait pembunuhan-pembunuhan ini,” katanya.

Aksi unjuk rasa besar-besaran tersebut memicu respons keras dari Washington. Presiden Donald Trump sebelumnya memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap melakukan “penyelamatan” apabila para pengunjuk rasa dibunuh, serta menyatakan bahwa pasukan AS berada dalam kondisi siap siaga. Trump juga sempat mengancam akan memberikan “respons keras” jika eksekusi massal terhadap demonstran terus berlanjut.

Namun, beberapa waktu kemudian, Trump melunakkan pernyataannya dengan mengklaim bahwa otoritas Iran telah menghentikan pembunuhan terhadap para pengunjuk rasa setelah peringatan tersebut disampaikan.

Di sisi lain, para pejabat Iran memperingatkan bahwa setiap serangan atau tindakan militer dari Amerika Serikat akan dibalas dengan respons yang “cepat dan komprehensif”. Pernyataan tersebut semakin mempertegas potensi eskalasi konflik antara kedua negara.

Sejumlah laporan media internasional menyebutkan bahwa Amerika Serikat telah meningkatkan secara signifikan kehadiran militernya di kawasan. The New York Times, seperti dikutip Antara, melaporkan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln diperkirakan akan berada dalam posisi siap operasi terhadap Iran dalam waktu satu hingga dua hari.

Selain kapal induk, Pentagon juga dilaporkan mengirimkan belasan pesawat tempur tambahan untuk memperkuat kelompok penyerang di wilayah tersebut. Fox News, mengutip seorang pejabat AS, menyebutkan bahwa kelompok tempur USS Abraham Lincoln telah memasuki wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM) di Samudra Hindia.