Swiss, ERANASIONAL.COM – Perang Ukraina yang telah mengguncang stabilitas global selama hampir empat tahun kembali menjadi sorotan dunia dalam pertemuan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) 2026 di Davos, Swiss. Di tengah suasana penuh ketidakpastian, pernyataan mengejutkan datang dari utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff, yang mengklaim bahwa hambatan utama menuju perdamaian Ukraina–Rusia kini telah mengerucut dan solusi permanen disebut berada dalam jangkauan.

Pernyataan tersebut langsung memantik perhatian komunitas internasional. Setelah bertahun-tahun konflik berdarah tanpa kejelasan akhir, setiap sinyal gencatan senjata selalu disambut dengan harapan, namun juga dibayangi skeptisisme mendalam. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa upaya damai kerap kandas sebelum mencapai hasil konkret.

Namun, Davos 2026 menghadirkan dinamika berbeda. Di tengah tekanan ekonomi global, kelelahan perang, dan perubahan konstelasi politik internasional, diplomasi kembali bergerak ke garis depan.

Perang Ukraina tidak muncul secara tiba-tiba. Akar konflik dapat ditelusuri sejak 2014, ketika Rusia menganeksasi Krimea dan konflik bersenjata pecah di wilayah Donbas. Ketegangan semakin meningkat seiring ambisi Ukraina untuk bergabung dengan NATO dan Uni Eropa, yang dipandang Moskow sebagai ancaman langsung terhadap doktrin keamanan nasional Rusia.

Bagi Rusia, ekspansi NATO ke Eropa Timur dianggap melanggar “garis merah” strategis. Sementara bagi Ukraina, integrasi dengan Barat adalah hak kedaulatan penuh sebagai negara merdeka. Benturan kepentingan inilah yang kemudian berkembang menjadi konflik terbuka.

Puncaknya terjadi pada 24 Februari 2022, ketika Presiden Rusia Vladimir Putin meluncurkan apa yang disebutnya sebagai “operasi militer khusus”. Serangan besar-besaran dari darat, laut, dan udara mengguncang Ukraina dan memicu krisis pengungsi terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II.

Meski banyak pihak memprediksi Kyiv akan jatuh dalam waktu singkat, perlawanan sengit Ukraina dengan dukungan militer dan finansial dari negara-negara Barat berhasil menggagalkan skenario tersebut. Pasukan Rusia mundur dari wilayah utara, dan konflik berubah menjadi perang atrisi yang panjang di wilayah timur dan selatan Ukraina.

Sepanjang 2023 hingga 2024, garis depan relatif statis namun sangat mematikan. Ribuan nyawa melayang dalam pertempuran parit yang brutal, sementara kedua belah pihak terus menguras sumber daya.