Lavrov menyebut bahwa sejumlah pertemuan di Davos justru digunakan untuk mengkritik pendekatan Trump, yang menurutnya sudah “terdiskreditkan dan gagal”. Namun, ia mengakui bahwa Washington mulai menyadari pentingnya membahas akar permasalahan konflik, bukan sekadar gejala di permukaan.

Meski demikian, Rusia tetap menolak keras gagasan gencatan senjata yang memungkinkan Ukraina kembali memperkuat militernya.

Rusia, kata Lavrov, tidak akan membiarkan Kiev “bernapas lega” hanya untuk kembali menyerang di kemudian hari.

Ia juga menyatakan bahwa jaminan keamanan yang didorong Eropa dianggap Moskow sebagai upaya mempertahankan rezim Ukraina saat ini, sesuatu yang dinilai tidak dapat diterima.

Kini, masa depan jutaan nyawa bergantung pada apakah celah perdamaian yang dibicarakan di Davos benar-benar dapat diwujudkan. Jika ego geopolitik dapat dikesampingkan demi kemanusiaan, perang yang telah mengubah wajah Eropa ini mungkin mendekati akhir.

Namun sejarah kawasan tersebut mengajarkan satu hal: garis antara perdamaian dan eskalasi baru sangatlah tipis. Januari 2026 pun menjadi momen krusial, bukan hanya bagi Ukraina dan Rusia, tetapi bagi stabilitas dunia secara keseluruhan.