Ukraina tetap berpegang pada tuntutan pengembalian seluruh wilayahnya sesuai batas negara 1991, termasuk Krimea. Presiden Volodymyr Zelenskyy menilai konsesi teritorial sebagai pengkhianatan terhadap kedaulatan nasional.

Sebaliknya, Rusia bersikeras bahwa wilayah yang telah dianeksasi Donetsk, Luhansk, Kherson, dan Zaporizhzhia merupakan bagian sah Federasi Rusia. Moskow menuntut Ukraina menerima “realitas teritorial baru” dan berkomitmen pada status netral permanen.

Konflik Ukraina tidak lagi bersifat regional. Keterlibatan mendalam Amerika Serikat dan NATO menjadikan perang ini sebagai arena pertarungan geopolitik global. Barat memandang kemenangan Rusia sebagai ancaman terhadap tatanan internasional berbasis aturan, sementara Rusia melihat dukungan NATO sebagai bukti bahwa mereka menghadapi kolektif Barat.

Ketidakpercayaan inilah yang membuat berbagai inisiatif damai sepanjang 2025 berujung buntu. Tidak ada pihak yang ingin terlihat kalah, apalagi kehilangan posisi tawar sebelum duduk di meja perundingan.

Memasuki 2026, tanda-tanda kelelahan perang mulai terasa di Moskow maupun Kyiv. Tekanan ekonomi, sanksi, serta jumlah korban jiwa yang terus bertambah memaksa para pemimpin dunia mempertimbangkan opsi yang sebelumnya dianggap tabu.

Di sinilah peran Amerika Serikat menjadi krusial. Menurut Steve Witkoff, intervensi diplomatik yang lebih agresif telah mempersempit perbedaan utama antara Rusia dan Ukraina. Salah satu gagasan yang mengemuka adalah insentif ekonomi, termasuk wacana zona bebas bea dan program rekonstruksi besar-besaran bagi Ukraina pascaperang.

Meski detail “satu masalah utama” yang dimaksud Witkoff tidak diungkap secara terbuka, pernyataannya memberi sinyal bahwa diskusi telah bergerak dari sekadar retorika menuju substansi.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menanggapi dinamika Davos dengan nada skeptis. Ia menilai para pemimpin Eropa berupaya memanfaatkan forum tersebut untuk memengaruhi kebijakan Presiden AS Donald Trump terkait Ukraina.